Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sunday, February 19, 2012

Biografi dan Profil Bubi Chen dan Perjalanan Karier Musiknya

Biografi dan Profil Bubi Chen dan Perjalanan Karier Musiknya - Bubi Chen adalah salah satu Pemusik Jazz Indonesia yang saya kagumi. Kini Bubi Chen telah meninggal dunia di usianya yang ke 74 tahun. Perjalanan karier beliau sangatlah panjang. Beliau begitu piawai memainkan jari jemarinya diatas hitam putih tuts piano, hingga mampu memperdengarkan musik-musik indah yang memberi kehangatan serta inspirasi bagi pecinta musik tanah air. Berikut ini adalah profil Bubi Chen atau biografi Bubi Chen, yang dilengkapi dengan perjalan karier musik beliau sepanjang hidupnya, dikutip dari id.wikipedia.org.

Bubi Chen (lahir di Soerabaja, Jawa Timur, 9 Februari 1938; umur 74 tahun) adalah seorang pemusik jazz Indonesia. Saat berusia 5 tahun oleh ayahnya Tan Khing Hoo, Bubi diserahkan kepada Di Lucia, seorang pianis berkebangsaan Italia, untuk belajar piano. Saat itu Bubi belum bisa membaca apalagi memahami not balok. Meskipun begitu, Bubi Chen bisa mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh Di Lucia karena Bubi Chen sudah terbiasa melihat kakak-kakaknya, Jopie Chen dan Teddy Chen, saat sedang berlatih piano. Bubi Chen belajar pada Di Lucia hingga tahun kemerdekaan Indonesia.

Perjalanan karier Bubi Chen
Setelah itu, Bubi Chen mengikuti kursus piano klasik dengan pianis berkebangsaan Swiss bernama Yosef Bodmer. Suatu ketika Bubi Chen tertangkap basah oleh Yosef Bodmer ketika sedang memainkan sebuah aransemen jazz. Bukannya marah, Yosef Bodmer justru berucap, “Saya tahu jazz adalah duniamu yang sebenarnya. Oleh karena itu, perdalamlah musik itu”. Di umur 12 tahun, Bubi Chen sudah mampu mengaransemen karya-karya Beethoven, Chopin, dan Mozart ke dalam irama jazz. Bubi Chen menilai musik jazz memiliki kebebasan dalam menuangkan kreatifitas dibanding musik klasik dengan kaidah-kaidahnya sendiri.[1]
Beberapa waktu kemudian Bubi mulai mempelajari jazz secara otodidak. Ia mengikuti kursus tertulis pada Wesco School of Music, New York antara tahun 1955-1957. Salah seorang gurunya adalah Teddy Wilson, murid dari tokoh swing legendaris Benny Goodman.



Buby Chen Profil Bubi Chen dan Perjalanan Karier Musiknya
Di Kota Buaya, Surabaya, Bubi Chen membentuk sebuah grup bernama The Circle bersama Maryono (saksofon), F.X. Boy (bongo), Zainal (bass), Tri Wijayanto (gitar) dan Koes Syamsudin (drum). Bersama Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha dan kakaknya Jopie Chen, ia juga tergabung dalam Indonesian All Stars. Kelompok Indonesian All Stars ini malah sempat berangkat dan tampil di Berlin Jazz Festival pada tahun 1967. Setelah itu mereka rekaman dan menelorkan album yang kini menjadi barang langka, “Djanger Bali”. Album ini digarap bersama seorang klarinetis ternama asal Amerika Serikat, Tony Scott. Bubi Chen pernah membuat rekaman jazz bersama Nick Mamahit dan diproduseri Suyoso Karsono atau yang akrab dipanggil mas Yos.

Pada tahun 1959, bersama Jack Lesmana, ia membuat rekaman di Lokananta. Rekamannya yang bertitel Bubi Chen with Strings pernah disiarkan oleh Voice of Amerika dan dikupas oleh Willis Conover pada tahun 1960, seorang kritikus jazz ternama dari AS. Ia menyebut Bubi sebagai The Best Pianist of Asia (tahun 1960 Bubi berusia 22 tahun). Bubi juga pernah membentuk “Chen Trio” bersama saudaranya Jopie dan Teddy Chen ditahun 1950-an. Ditahun yang sama ia juga bergabung dengan “Jack Lesmana Quartet” yang kemudian berganti menjadi Jack Lesmana Quintet. Menetap di Surabaya, Bubi Chen menularkan ilmu yang dimilikinya. Beberapa diantaranya cukup dikenal antara lain Abadi Soesman, Hendra Wijaya, Vera Soeng dan Widya Kristianti.


Pada pertengahan tahun 1976, Bubi merilis rekamannya yang berjudul Kau dan Aku, bersama Jack Lesmana, Benny Likumahuwa, Hasan, dan Embong Rahardjo. Selain itu, ada dua buah rekaman lain yang eksotik, berupa eksperimen jazz dengan beat reog. Sedangkan pada tahun 1984, bersama pemain-pemain jazz seperti John Heard, Albert Heath, dan Paul Langosh, ia membuat rekaman di Amerika dan diedarkan di Indonesia. Rekaman itu diberi judul Bubi di Amerika.[3]
Bubi Chen telah merilis banyak album, beberapa diantaranya: Bubi Chen And His Fabulous 5 , Mengapa Kau Menagis, Mr.Jazz, Pop Jazz, Bubi Chen Plays Soft and Easy, Kedamaian (1989), Bubi Chen and his friends (1990), Bubi Chen – Virtuoso (1995), Jazz The Two Of Us (1996), All I Am (1997) dan banyak lagi.[4] Beberapa catatan kritikus yang pernah dibuat antara lain sebagai berikut: Menanggapi karya Bubi Chen seorang Harry Roesli pernah menulis:
“ Bayangkan, sebuah otonomi estetik kecapi-suling disusupi secara indah oleh Bubi Chen dengan bentuk improvisasi dan subtitusi jazz. Bayangkan sebuah harmoni sakral dan hampir minimalis, dibayangi oleh idiom-idiom jazz dari permainan Bubi Chen dengan akur-akur seluas-luasnya, bahkan dengan teknik super-impossion yang demikian modern. Secara teknik saja, hal itu sudah menarik. Tetapi ini lebih dari itu, Bubi Chen total, lentur, “kawin” dengan pakem-pakem kecapi-suling, tanpa menghilangkan karakter dia yang kuat, juga kentalnya sentuhan dan rasa seorang Bubi Chen. Makanya, hal ini bisa disebut “Hebat” ”
— Harry Roesli, 4 September, 1989, [2]
Atau komentar musisi Iskandarsyah Siregar, saat bermain bersama di event Java Jazz “sepertinya Buby sulit memisahkan napas dengan musiknya”. Karyanya diluar negeri. Misalnya, radio KFAI 90.3 FM di Minneapolis, KUSP 88.9 FM Santa Cruz,[2] di California Amerika Serikat yang menyiarkan nomor dari Bubi Chen dalam acara Global Beat. Sebagai salah satu aset bangsa Indonesia, kita patut selalu berdoa bagi kesehatannya dan semoga masih tetap memberikan kontribusinya bagi perkembangan musik khususnya jazz di Indonesia. Bubi menikah dengan Anne Chiang pada tahun 1963 di Surabaya, dan kini adalah ayah empat anak.

Pada tahun 2004, Bubi Chen menerima penghargaan Satya Lencana pengabdian seni dari mantan presiden Megawati. Setahun kemudian, pada tahun 2005, Peter F. Gontha pada gelaran Java Jazz Festival yang pertama memberikan penghargaan sebagai musisi Jazz Living Legend kepada Bubi Chen. Bubi Chen juga mendapatkan Life Achievement Award dari gubernur Jawa Timur karena dinilai telah memperkenalkan Surabaya ke dunia internasional melalui musik jazz. Penghargaan tersebut diberikan pada gelaran Wismilak The Legend of Jazz yang diadakan pada awal tahun 2010.
Karier.

Karyawan RRI Jakarta (1955)
Ikut Festival Jazz di Berlin (1967)
Dosen di YMI & Yasmi Surabaya
Mengadakan pergelaran jazz di TIM
Guru Privat Piano
Ketua Yayasan Musik Victor Indonesia di Surabaya
Musikus Jazz (sekarang) Anggota Circle Band
Pemimpin Indonesian All Stars Band



Baca Juga : Bubi Chen Tutup Usia


[ Referensi : infodari.com ]


rating 5

Friday, January 20, 2012

Kisah Perjuangan Hidup Sule OVJ

Kisah Perjuangan Hidup Sule OVJ - siapa yang tak mengenal Sule. Komedi dan lawakannya berhasil membuat namanya dikenal seantero nusantara. Namun belum tentu semua orang tahu bagaimana perjuangan pemilik nama Sutisna ini hingga bisa menjadi terkenal seperti sekarang. Jauh sebelum menikmati kejayaannya, Sule harus membanting tulang bersama sang Ayah demi menyambung hidup. “Sebelum ke dunia seni mendalami dunia dagang. Ikut dagang sejak kelas 4 SD, ikut bantuin Bapak dagang jagung rebus dan permen karet, pokoknya apa saja yang bisa menghasilkan duit. Biasanya kita dagang di tempat hiburan, kayak panggung dangdut, jaipong, wayang, reog dan macem-macamlah. Dari situ dimasukin sanggar seni tari jaipongan,” papar Sule kepada kasakusuk.com.
Sambil berdagang, Sule mulai menyadari darah seni dalam dirinya. Karena sering berjualan di sekitar panggung hiburan kampung, Ia sangat tertarik dengan semua kesenian tradisional. Tahun 1991 sampai 1993 Sule mulai mendalami seni tari Jaipong dengan bergabung kedalam Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI). Dari situlah Sule memberanikan diri mengikuti audisi lawak ditahun 1994. Sayang, keberuntungan belum berpihak padanya, humor a la mahasiswa yang diikutinya tidak membuatnya berhasil. Sule malah gagal menjadi juara. Meski demikian, Ia berhasil mendapat tawaran untuk mengisi sebuah acara di televisi nasional sampai tahun 1998.

Setelah kontrak selesai, Sule kembali mendalami dunia lawak. Masih ditahun yang sama Ia bergabung dengan Lawak Kecapi Dangdut yang saat itu dikenal dengan sebutan Lapidut sampai tahun 2005. Dari situ pula Sule kembali mendapat kesempatan ikut audisi lawak untuk salah satu program televisi swasta. Sule yang terpisah dengan kawan-kawan lamanya pun kembali mencari kabar mereka hingga akhirnya berhasil memenangkan kontes lawak tersebut. Namun sayang, pasca memenangkan ajang lawak itu, Sule dan kedua temannya malah disibukkan dengan kegiatan masing-masing.

“Tapi sampai bisa seperti ini karena perjuangan sendiri. Intinya ingin membuktikan bahwa walaupun kita punya predikat apapun tapi kalau kita leha-leha tidak akan ada hasilnya,” kata pria asal Cimahi ini. Perjuangan dan kerja keras Sule mulai membuahkan hasil. Kini bersama istri dan ketiga anaknya, Ia dapat menikmati semua hal tersebut. “Bedanya sekarang sudah bisa beliin mobil bini. Sekarang bisa buka usaha buat bini. Sekarang tinggal mensyukuri apa yang sudah dikasih sama Allah,” ucapnya.
rating 5